Langsung ke konten utama

Postingan

Jomblo Saat Valentine? Why Not

ilustrasi/net Cherss, udah Februari aja. Ini bulan yang serba pink everywhere ya. Pas belanja pagi tadi di Indomaret eh, udah ada balon-balon gitu sama potongan kata “Happy Valentine”. Yap, ini bulan yang sebagian orang dideklarasikan sebagai bulan kasih sayang. Sebagian? Iya. Karena sebenarnya tanpa ada Valentine-Valentine nan kita tetap bisa kok menunjukan rasa sayang kita. Sama keluarga, anak, sodara bahkan pacar or suami.
Postingan terbaru

Happy Single's Day

credit by google “We have to allow ourselves to be loved by the people who really love us, the people who really matter. Too much of the time, we are blinded by our own pursuits of people to love us, people that don't even matter, while all that time we waste and the people who do love us have to stand on the sidewalk and watch us beg in the streets! It's time to put an end to this. It's time for us to let ourselves be loved.” ― C. JoyBell C.  Happy Single's Day . Yap, Selamat Hari Jomblo Sejagat. Untuk kamu (dan saya) yang sampai saat ini masih sendiri. Dunia resmi memperingati tanggal 11 November sebagai Hari Jomblo se-dunia. Dimana para jomblo berkumpul merayakan statusnya. Entah itu yang “no attachment, berada dizona friendzone atau masih dalam proses PDKT”. Hahahah. Pastinya hari ini gak kamu gak bakalan merasa sendiri. You are not alone and not lonely. Karena di luar sana masih banyak kog yang tengah berada dalam proses pencarian. Entah itu p

Fashion : Selera dan Seni Berkreativitas

“Kenapa harus cantik? Karena semua perempuan berhak untuk cantik. Karena setiap perempuan adalah bintang yang bersinar d an layak menjadi pusat perhatian” Seorang ibu-ibu menepuk pundak saya dari belakang tatkala saya tengah memilih-milih pakaian di rak khusus diskon. “Dek, beli jilbabnya dimana?” tanya si ibu sambil melihat ke wajah ku “Oh ini saya beli dasar ibu, trus dijadikan jilbab deh. Murce bu. Murah dan ceria,” terang ku

Status Yang (Tak) Diharapkan

“Ini bukanlah status yang diinginkan, namun jika ini harus kamu sandang, percayalah kamu tidak sendirian”   AKHIRNYA saya memberanikan diri m enulis artikel ini. Tulisan yang saya persembahkan untuk perempuan-perempuan yang sedang menghadapi dilema besar dalam hidupnya. Perempuan berstatus single parents di luar sana. Atau mereka yang masih terbelenggu dengan masa lalu sehingga terus menutup diri. Terpaksa menebalkan muka atas konsekuensi keputusan yang diambilnya. Manusiawi kok. Karena saya sendiri butuh waktu satu tahun untuk dapat memupuk kepercayaan diri lagi. MALU. Come on. Don’t be sad. You are not alone.

Be Active Zet

Duta Zetizen Harian Rakyat Bengkulu saat melakukan kunjungan ke salah satu vendor  ZET apa yang kamu lakukan untuk   “membunuh” waktu kosong kamu.  Baca buku, nonton film baru, atau hunting something .  Setiap orang punya hal-hal tertentu yang bisa atau sering dilakukan khususnya di waktu senggang. Pastinya itu sangat menarik bagi orang tersebut. Bisa dikatakan semacam hobi lah. Nah kira-kira apa sih hobi kamu, Zet ? Sadar gak kalo Zet punya hobi ? Bermanfaat gak hobi kamu itu ? Positif atau negatif? Atau jangan-jangan ada yang gak punya hobi ? Nah loh gimana? Kacau dong.

Ngeblog Yuk : Bobe Part 1

  Ngeblog Yuk : Bobe Part 1   Yap, i'm coming again ladies. Sebenarnya udah lama sih pengen seriusan ngeblog tapi gitu deh. Selalu terbentur sama waktu. Jiyaaah jadiin waktu sebagai kambing hitam. Ketahuan banget gak konsisten. But, from now bener-bener pengen seriusan. Karena dari awal big reason bikin blog supaya gak lupa sama cara nulis. Jadi biar kreatif terus sih. Apalagi mulai ada komunitasnya nih di Bengkulu. apaan. Ituloh.  Bobe alias Blogger Bengkulu . Kayak hari ini Minggu, 25 Septermber 2016 nih, kita diajakin workshop perdana "Ngeblog ala Newbie" bareng Ketua FLP Bengkulu Milda Ini di Adiguna Konveksi. "Home stay" darurat kita sementara.

Ini Bukan Senjakala, Ini Era Media Cerdas

Salah satu cara yang saya lakukan untuk mengenalkan dunia saya pada si kecil. Kali pertama saya mengajak si kecil menghadiri Festival Media AJI Indonesia, dan kami mampir ke salah satu stand AJI Kota melihat secara langsung koran-koran tempo dulu yang keotentikannya masih nyata. SAYA menulis artikel ini, bukan karena saya ingin bersaing dengan seorang wartawan senior dari koran nasional yang belakangan namanya mencuat dan menjadi perdebatan di kalangan jurnalis.  Saya sadar kelas saya di dunia media cetak, koran, baru seujung kuku. Saya menulis ini karena saya juga merasakan keresahan yang sama. Keresahan yang dirasakan (mungkin) hampir seluruh jurnalis yang besar dan hidup dari koran. Namun dibalik keresahan itu, saya masih memiliki segudang optimistis bahwa koran  memiliki 1.000 nyawa, tak akan pernah mati atau benar-benar mati dengan ada atau tidaknya media baru. Media online yang saat ini tumbuh subur layaknya jamur dimusim hujan bukanlah malaikat maut bagi koran!